Feeds:
Posts
Comments

Survey ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang bagaimana perilaku masyarakat dalam memanfaatkan layanan internet pada warung internet. Kami mengharapkan partisipasi dari teman-teman untuk dapat mengisi kuesioner pada survey ini, atas kesediaan dan kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.

Ikut Survey klik disini : Survey

Implementasi teknologi informasi (TI) adalah suatu bentuk perubahan di dalam perusahaan atau organisasi. Dengan begitu, kita tidak bisa memisahkan persoalan teknis, yang terkait dengan TI, dengan persoalan non-teknis, seperti manajemen perubahan. Hal ini harus dipikirkan dan dicarikan solusinya secara komprehensif demi kesuksesan implementasi TI tersebut.

Dalam organisasi bisnis, tujuan dari implementasi IT adalah untuk meningkatkan kinerja layanan dari bisnis tersebut tentunya. Karena itu setipa organisasi bisnis sudah pasti akan terus berupaya untuk meningkatkan layanan bisnisnya melalui peningkatan layanan IT.

Salah satu model peningkatan kualitas layanan TI dalam sebuah organisasi adalah CSI (Contiual Service Improvement). Dalam implementasi CSI disebutkan bahwa untuk meningkatkan layanan IT maka tidak dapat dilakukan pada satu sapek saja meliankan pada keseluruhan aspek dalam organisasi, sehingga organisasi tersebut perlu mentransformasi diri untuk meningkatkan layanannya.

Mengapa Meningkatkan Kualitas Layanan IT memerlukan Tranformasi Organisasi ?

Ketika kita memulai untuk mengimplementasikan CSI, pahamilah bahwa focus pada satu peningkatan proses layanan saja selalu tidak cukup karena sebagian besar proses dipengaruhi oleh dan sering tertanam dalam bagian lain dari organisasi.

Peningkatan kinerja layanan biasanya merupakan hasil perubahan dari organisasi, dan perubahan sering merupakan tantangan yang besar bagi sebuah organisasi. Secara natural, manusia bereaksi untuk menolak terhadap perubahan dengan resistensi. Untuk meningkatkan kemungkinan pencapaian hasil yang diinginkan, pertimbangkanlah untuk menggunakan pendekatan “organization change” oleh John Kotter dari Harvard Bussiness School.

Hambatan dalam perubahan Organisasi

Namun, perubahan organisasional bukanlah hal yang mudah dilakukan. Ada banyak kendala yang bisa menghadang dan memacetkan program-program perubahan. Sejumlah kendala yang ditengarai oleh George dan Jones (2002:645-646) adalah: (1) kendala-kendala sistem keorganisasian dan kekuasaan, (2) perbedaan-perbedaan dalam orientasi fungsional dan struktur organisasi yang mekanistik, (3) kelembaman (inertia) kultur organisasi, (4) norma dan kohesivitas  kelompok, (5) pemikiran kelompok (group think) dan kendala-kendala individual, seperti ketidaksiapan yang mengakibatkan rasa  ketidakpastian, kekhawatiran, ketidakamanan, persepsi selektif, dan retensi kebiasaan

Berikan Perhatian khusus terhadap perubahan organisasi.

Agar CSI berjalan dengan sukses, kita perlu menuju “softer aspect” dari perubahan organisasi. Perhatikan dengan seksama hal berikut, terutama karena layanan dalam CSI membutuhkan bekerjanya fungsi-fungsi yang berbeda dalam organisasi dengan cara yang baru.

Aspek dalam perubahan organisasi meliputi

  1. mengatasi resistansi dalam perubahan
  2. Mendapatkan komitmen dari partisipan
  3. Menberdayakan
  4. Memotivasi dan melibatkan partisipan
  5. Mentapkan komunikasi yang efektif

Transformasi Organisasi

Model manajemen perubahan yang sangat baik diartikulasikan oleh John P. Kotter dengan delapan langkah manajemen perubahan seperti yang diungkapkan dalam bukunya yang berjudul “Leading Change” pada tahun 1996.

Change Management oleh Kotter

Kotter mengungkapkan delapan langkah perubahan, yaitu (1) membangun situasi perlunya perubahan, (2) membangun koalisi atau kelompok kerja untuk perubahan, (3) membangun visi dan strategi untuk perubahan, (4) mengomunikasikan visi perubahan ke semua pihak di dalam perusahaan atau organisasi, (5) melakukan perubahan melalui pemberdayaan, (6) menciptakan kemenangan atau hasil baik jangka pendek, (7) melakukan konsolidasi dan melanjutkan perubahan yang diperlukan, dan (8) menanamkan pendekatan-pendekatan baru tersebut dalam budaya kerja.

Lebih lanjut, Kotter mengungkapkan setidaknya ada tiga kemampuan yang dibutuhkan pemimpin perubahan, yaitu (1) kemampuan mendiagnosa kemungkinan-kemungkinan penolakan perubahan, (2) kemampuan menangani semua bentuk penolakan yang ada, serta (3) kemampuan memilih strategi untuk melakukan perubahan.

Demikianlah, ditengah semakin meningkatkan tuntutan pelanggan akan kinerja layanan sebuah organisasi, maka organisasi untuk tetap eksis perlu mentetapkan dan melaksnankan strategi yang tepat serta berkomitemen tinggi untuk meningkatkan kualitas layanannya agar tetap eksis ditengah persaingan yang ada.

Sumber : dari berbagai sumber

Seperti organisasi yang melayani pelanggan pada umumnya, anda memiliki sumberdaya yang anda kelola. Akan tetapi, anda menciptkan nilai bagi pelanggan hanya pada saat anda mampu mentransformasi sumberdaya tersebut kesesuatu yang berguna bagi bisnis. Proses ini persisnya yang manajemen layanan perjuangkan untuk tercapai.

ITIL mendefinisikan manajemen layanan sebagai “Seperangkat kemampuan special organisasi untuk menyediakan nilai bagi pelanggan dalam bentuk pelayanan.”

ITIL mendefinisikan layanan sebagai “Sebuah cara untuk menyampaikan nilai ke pelanggan dengan menfasilitasi hasil yang ingin didapat  pelanggan tanpa melalui biaya dan risiko yang spesifik.”

Agar sebuah layanan dapat disajikan secara efektif, organisasi IT memiliki fungsi dan proses-proses. CSI (Continual Service Improvement) menempatkan fokus utamanya pada peningkatkan kinerja proses.

Pentingnya CSI

Tujuan dari CSI adalah untuk meningkatkan penyampaian layanan IT dengan mengambil langkah dalam mengevaluasi dan memenuhi kebutuhan bisnis yang berubah. CSI adalah proses yang interaktif, yang menambah nilai tambah dari setiap iterasi. CSI objektif ternasuk meningkatkan kualitas pada setiap tahapan dari manajemen layanan, sambil memantain kepuasan pelanggan. Cakupan dari CSI meliputi tiga topic utama : IT service management (ITSM) sehat secara umum, keselarasan pada layanan IT dan kebutuhan bisnis hari ini, dan masa yang akan datang dan proses kematangan pada setiap daur hidup layanan.

Enam Langkah untuk Peningkatan Layanan

Kesuluruhan ide dari CSI adalah peningkatan kinerja tersebut seharusnya adalah tujuan yang konstan, sehingga IT selalu memaksimalkan nilai untuk kegiatan bisnis.  Salah satu cara untuk memastikan hal tersebut adalah dengan mengikuti sebuah model yang menggerakan proses panjang dalam aturan yang terorganisasi. Gambar 2 mengilustrasikan enam langkah ITIL untuk peningkatan. Mereka termasuk : mendefinisikan visi,  menetapkan baseline, pemasangan target, membuat perencanaan, mengukur perkembangan, dan menambahkan hal-hal perubahan yang dibutuhkan.

Gambar : Enam langkah untuk meningkatkan kinerja layanan IT

Sumber : BMC Sofware

Program Pascasarjana STIKOM Dinamika Bangsa memberikan kesempatan kepada alumni STIKOM Dinamika Bangsa untuk bergabung bersama kami sebagai tenaga administrasi dengan kriteria, sebagai berikut :

  1. Pria atau wanita (bagi wanita lebih disenangi yang belum menikah)
  2. Lulusan S1, dengan program studi Sistem informasi, Teknik Informatika, Sistem Komputer, dengan IPK minimal 3,00.
  3. Umur tidak lebih dari 25 tahun.
  4. Bagi wanita bersedia untuk tidak menikah selama dalam masa ikatan dinas.
  5. Lebih diutamakan bagi yang menguasai pemograman berbasis web dan basis data.

Lamaran paling lambat diserahkan pada hari rabu, 25 November 2009 dan ditujukan ke

Ketua STIKOM Dinamika Bangsa

CQ Ketua Program Pascasarjana STIKOM Dinamika Bangsa

Alamat :

Gedung B STIKOM Dinamika bangsa

Jl. Jend. Sudirman, Thehok, Jambi 36138

Sebagai Tuntutan dari bisnis dan ketergantungannya terhadap layanan IT yang terus berkembang dengan cepat, menjadi vital bagi sebuah organisasi untuk terus mengevaluasi dan meningkatkan layanan IT dan manajemen proses layanan IT yang menyediakan layanan IT tersebut. Sebuah praktek prokatif peningkatan manajemen layanan secara formal (Continual Service Improvement/ CSI) dibutuhkan untuk memenuhi dan mencapai formulasi layanan yang telah disepakati.

Mengimplementasikan CSI adalah menanamkan perilaku yang baik dan mengarahkan kebiasaan yang baik sampai hal tersebut menjadi cara hidup sehari-sehari. Penyedia layanan IT harus mengembangkang budaya pengukuran yang secara berkelanjutan menguji nilai, kualitas, performan, dan memenuhi layanan sesuai portofolio dan mengimplementasikan inisiatif yang memungkinan terpenuhinya kebutuhan bisnis.

Berikut adalah fakta yang benar :

  • Sesuatu yang tidak dapat didefinisikan tidak akan dapat dikontrol
  • Sesuatu yang tidak dapat dikontrol tidak akan dapat diukur
  • Sesuatu yang tidak dapat diukur maka tidak akan dapat diperbaiki

Selama bertahun-tahun keselarasan antara IT/Bisnis telah menjadi mantra dari kesuksesan manajemen pelayana IT; walaupun secara definisi, aksi untuk menyelaraskan membutuhkan dua entitas yang terpisah dengan tujuan dan objektif  yang terpisah yang juga harus diselaraskan.

Pada lingkungan yang kompleks saat ini, menjadi lebih sulit menentukan perbedaan antara layanan IT dan layanan bisnis. Sebagai garis yang kabur, melihat dari keselarasan saja tidaklah jadi cukup; IT harus menjadi bagian yang terintegarsi dengan bisnis. Tidak akan dapat lagi ada organisasi yang terpisah dengan tujuan dan objektif yang berbeda tetapi lebih kepada fungsi operasi bisnis yang terintegrasi karena berfungsinya layanan IT.

Jadi kapan sebaiknya perbaikan dilakukan ? salah satu prinsip kunci dari buku CSI menyebutkan kesempatan untuk perbaikan dapat ditemukan pada setiap tahapan dari daur hidup sebuah layanan. Tidak perlu menunggu sampai sebuah layanan selesai dan dimulainya operasi untuk kegiatan perbaikan. Ukurlah sekarang dan perbaikilah saat ini juga.

itsm-itilv3-processes

Gambar diatas mengilustrasikan daur hidup layanan.

Berikut penjelasannya :

  1. Pada tahapan pertama dari manajemen layanan adalah strategi layanan (service strategy), mencakup mendesain tujuan, mengembangkan dan mengimplementasikan manajemen pelayanan baik sebagai kapabilitas organisasi maupun sebagai aset startegik.
  2. Tahapan kedua desain layanan (service design), tahapan ini focus pada memastikan bahwa layanan IT yang ditawarkan kepada bisnis memenuhi ojektifitas dari bisnis tersebut.
  3. Tahapan ketiga transisi layanan (service transition), tahapan ini focus pada menciptakan jalan yang lancer/ luwes dari mulai tahapan desain dan pengembangan sampai ke operasi.
  4. Tahapan terakhir adalah operasi layanan (service operation), pada tahapan ini dilakukan usaha yang keras agar operasi prioritas dapat di kelola dengan efektif, seperti ketersediaan layanan IT untuk bisnis, optimalisasi penggunaan infrastruktur yang tersedia; menyelesaikan isu; dan mengontrol kebutuhan dari layanan.

Menempatkan program CSI akan dapat memperoleh manfaat yang optimal dari infrastuktur IT yang anda miliki. Carilah cara untuk dapat membuat infrastuktur IT lebih efesien, menguntungkan, cost-efektif sehingga IT dapat memberikan nilai bagi bisnis anda. Dan ingatlah, CSI seharusnya menjadi bagian dari setiap tahapan daur hidup layanan yang anda lakukan.

Sumber :

-          www.best-management-practice.com

-          www.bmc.com

Tahukah anda bahwa seorang manajer IT dapat menjadi lebih responsif terhadap kebutuhan bisnis hanya dengan mengikuti proses yang dipakai untuk meningkatkan kemampuan bermain golf mereka?

hal ini benar. Ini meliputi pertama mengidentifikasi mengapa anda ingin bermain golf  (yang analoginya sejalan dengan mengapa anda ingin mengimplementasikan strategi untuk menyelaraskan IT dengan kebutuhan bisnis yang ada).  Kemudian alasan ini diturunkan untuk menentukan pada level apa atau menjadi pemain golf yang bagaimana yang anda inginkan (mendefinisikan objektif) terakhir, menentukan aksi-aksi penting yang harus diambil untuk mencapai level tersebut (menempatkan proses dan teknologi yang tepat untuk mendukung tercapainya tujuan).  Besarnya sumberdaya yang anda butuhkan kan tergantung kepada hasil yang anda harapkan akan dicapai.

Untuk  memahami pendekatan ini, penting bagi anda pertamakali untuk memahami dua konsep yaitu Business Service Management (BSM) dan golf tentunya. Anda mungkin tahu tentang dasar permainan golf ( jika tidak mungkin anda tidak akan membaca artikel ini), tetapi mungkin anda tidak begitu tahu tentang BSM, salah satu pendekatan paling efektif untuk mengelola IT dari prespektif bisnis. BSM adalah komunikasi dua arah, dimana  bisnis dapat meminta departemen IT  jika mereka dapat memenuhi objektif tertentu , misalnya menambahkan  sarana penjualan berbasis web ,  dan apa saja sumberdaya yang dibutuhkan dengan adanya  permintaan tersebut. Dengan mengimplementasikan BSM, perusahaan dapat dengan cepat menyeleraskan kegiatan IT untuk secara langsung mendukung objektif bisnis yang diprioritaskan tersebut.

BSM membantu departemen IT mengerti hubungan kritis antara bisnis dan layanan IT.  BSM memungkinkan mereka untuk mendeteksi perubahan dan prioritas manajmen komponen infrastruktur IT  berdasarkan bisnis metric dan kebutuhan terbaru. Kemampuan ini penting karena memahami bagaimana hubungan dan menentukan prioritas bagaimana bereaksi terhadap situasi, dapat membantu bisnis beroperasi lebih efektif dengan mengurangi biaya dan meningkatkan kepuasan pelanggan. (bersambung)

By Peter Armstrong

Coorporate Strategist, BMC Software

Pengukuran tingkat kematangan pengembangan e-government dibutuhkan untuk menilai seberapa baik  pengembangan e-government itu dilakukan. Model penahapan e-government dikembangkan baik oleh institusi maupun oleh individu dinataranya adalah :

-          Penelitian oleh intituts ( United Nations and American Society For Public Administration pada tahun 2001 ; Baum and Di Maio pada tahun  2000; Gatner Group Deloitte and Touce pada tahun 2001)

-          Peneliti secara individual (Hiller dan Belanger pada tahun 2001; Layne dan Lee pada tahun 2001; Moon pada tahun 2002)

Bagaimana e-government maturity models yang dihasilkan, saya akan membahas 4 diantara model yang ada diatas mari kita lihat penjelasan sebagai berikut :

1. Maturity models oleh Gatner Group

Secara garis besar maturity model yang dihasilkan terdiri atas 5 tahapan yaitu web presence, interaction, transaktion dan tranformation.

a)      Web presence, pada tahapan ini pemerintah menyediakan website sebagai penyedia informasi dasar bagi masyarakat.

b)      Interaction, pada tahapan ini pengguna telah dapat berinterakti dengan penyedia layanan atau mendapatkan layanan sendiri (seperti mendownload dokumen) dan terdapat layanan pencarian.

c)      Transaction, pada tahapan ini pengguna (baik masyarakat umum dan kalangan bisnis) telah dapat melakukan transaksi yang komplit misalnya layanan dibidang perizinan.

d)      Transformation-pada tahapan ini pemerintah telah mentransformasi layanan operasionalnya sehingga lebih efesien, terintegrasi (tranformasi terjadi baik pada level daerah dan pusat, terdiri atas aplikasi internal dan eksternal untuk menyediakan komunikasi antara pemerintah dengan pegawainya dan dengan lembaga non pemerintahan lainnya)

2.  UN Maturity model

UN mengusulkan model penahapan yang terdiri atas lima tahapan (yang fokus pada layanan publik berbasis web yang efesien), kelima tahapan tersebut adalah emerging presence, Enchanced Presence, Interactive Presence, Transactional, Presence, Seamless or Fully integrated Presence, model ini mirip dengan model diatas hanya saja membagi tahapan pertama atas dua level, level pertama ditandai dengan adanya web static dan level kedua web dinamis.

3. Layne dan Lee model

Model yang dikembangkan oleh Layne dan Lee memiliki cukup banyak perbedaan jika pada dua model sebelumnya lebih fokus pada aspek teknis,  Layne dan Lee sudah mengakomodasi lebih banyak aspek seperti teknikal, organisasi, dan manajerial berdasarkan fenomena pengembangan e-government yang muncul saat ini. Layne dan Lee membagi modelnya atas empat tahapan sebagai berikut :

  1. Catalouge. Pada tahapan ini disampaikan layanan secara static atau informasi dasar melalui website
  2. Transaction. Tahapan ini merupakan kelanjutan dari tahapan sebelumnya yang ditandai dengan tersedianya layanan  transaksi online sederhana bagi masyarakat seperti pengisian aplikasi pemerintah.
  3. Vertical Integration.  Pada tahapan ini diinisiasi pelaksanaan transformasi layanan pemerintahan yang lebih dari sekedar proses otomatisasi proses yang ada. Fokus pada mengintegrasikan berbagai level fungsi pemerintah seperti pemerintah lokal dengan pusat.
  4. Horizontal Integrasion. Tahapan ini focus pada integrasi fungsi-fungsi yang berbeda  dari sistem yang terpisah sehingga tersedia layanan terpadu bagi masyarakat.

4. Moon diadaptasi dari Hiller dan Belager

    Model terdiri atas lima tahapan yaitu; information, two way communication, transaction, integration, participation. Secara umum model ini nyaris sama dengan model yang dikembangkan oleh Layne dan Lee hanya saja terdapat tahapan yang disebut  participation, pada tahapan ini masyarakat diberi kesempatan untuk berpartisipasi kepada pemerintah secara online misalnya melalui online voting dan online survey.

    Demikian 4 buah model tingkat kematangan (maturity) pengembangan e-government. Di Indonesia pelu kita lakukan penilaian dengan menggunakan model maturity yang aspeknya sudah lebih komplek, kalo selama ini kita masih manggunakan maturiry model yang beroientasi teknis semata sebaiknya kita mulai mengevaluasi dengan model maturity yang lain seperti yang dijelaskan diatas.

    Sumber : dikutip dari berbagai sumber

    Program Magister Sistem Informasi STIKOM Dinamika Bangsa sejak beropersional ternyata cukup menarik perhatian media cetak, salah satunya adalah Jambi Star, anak perusahaan Jambi Independent (perusahaan media terbesar di Jambi), kemarin bertandang ke Gedung Pascasarjana STIKOM untuk melihat secara langsung kegiatan di Program Pascasarjana. Berikut  beritanya :

    IMG00269

    Inisiatif e-Government di Indonesia telah diperkenalkan melalui Instruksi Presiden No. 6/2001 tgl. 24 April 2001 tentang Telematika (Telekomunikasi, Media dan Informatika) yang menyatakan bahwa aparat pemerintah harus menggunakan teknologi telematika untuk mendukung good governance dan mempercepat proses demokrasi.

    Selama ini penelitian dan kajian dibidang e-Government lebih banyak berbicara pada tataran teknis, sedangkan untuk bidang non teknis yang berkaitan dengan manajemen terutama yang berkaitan dengan organisasi relatif masih minim. Padahal dalam sebuah kajian dinyatakan bahwa Restrukturisasi organisasi mempengaruhi sekitar 30 sampai 50% dari keseluruhan usaha pengembangan e-Government. Perubahan dalam struktur organisasi harus direncanakan dengan matang dan implementasikan dengan sistematis.

    Pada kesempatan ini penulis mencoba menyampaikan solusi berdasarkan hasil studi lietarur yang dilakukan pada bidang organisasi dalam kaitannya dengan penerapan e-Government yang telah dilaksanakan. Penulis mencoba mendapatkan jawaban untuk mengetahui bentuk organisasi seperti apakah yang paling tepat untuk dapat bersinergi dengan penerapan e-Government.

    Buruknya pelayanan publik yang dilakukan birokrasi pemerintah memang bukan hal baru. Patologi birokrasi, seperti pungli, korupsi, kolusi, nepotisme, diskriminasi pelayanan, proseduralisme, serta berbagai macam kegiatan yang tidak efektif dan efisien telah mengakibatkan terpuruknya pelayanan publik yang dilakukan pemerintahan kita. Fakta di lapangan masih banyak menunjukkan hal ini (Governance and Decentralization Survey 2008).

    Fakta diatas diyakini akan memberikan resistensi yang besar bagi penerapan e-Government, jika penerapan e-Government hanya dilakukan sebatas investasi pada teknologi informasi dan komunikasi saja tanpa merubah paradigm organisasi pemerintahan dalam melaksanakan pelayanan kepada pemerintah diperkirakan penerapan e-Government sangat sulit untuk mencapai tujuannya.

    Pengalaman dan pengamatan sejarah birokrasi di Indonesia selama ini belum menunjukkan etika baik dalam melayani masyarakat. Padahal birokrasi adalah abdi negara dan pelayan masyarakat. Terlebih apabila hal tersebut dikaitkan dengan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan sebuah organisasi yang berorientasi pada public service, yaitu keberhasilan di dalam menjalankan fungsi layanan kepada publik, baik berupa barang maupun jasa sesuai dengan kebutuhan yang dikehendaki. Berkenaan hal tersebut, layanan publik yang professional perlu diwujudkan. Hal ini penting mengingat dalam system pemberian layanan kepada masyarakat akhir-akhir ini menunjukkan banyak kemunduran. Untuk mengantisipasi kemungkinan hal tersebut terjadi, jauh sebelumnya pemerintah telah berupaya untuk memberikan layanan masyarakat yang lebih baik.

    Paradigma baru dalam menyelenggarakan pealayanan kepada konsumen dalam hal ini masyarakat tergambar dalam ilustrasi berikut;

    Pelayanan

    Transpormasi organisasi pemerintah meripakan salah satu alternatif yang dapat ditempuh dalam rangka mewujudkan organisasi yang berorientasi layanan publik. Namun dalam banyak kasus, transformasi organisasi hanya sebatas mengubah satu bagian dari keseluruhan organ organisasi. Akibatnya kegagalan ditemui. Menurut kajian Goulliart dan Kelly, bertransformasi bukan sedekar downsizing. Lebih dari itu, proses transformasi organisasi bermaksud melakukan pergeseran secara fundamental atas pola kerja, budaya organisasi, nilai-nilai dan strategi sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan organisasi.

    Sehingga organisasi yang dibutuhkan adalah organisasi dengan karateritik beroientasi pelayanan publik. Bahan penelitian baru bagi yang berminat.

    Sumber : Dari berbagai sumber

    Bagi mahasiswa yang membutuhkan jadwal kegiatan dan mengajar saya disemester ini silahkan download disini

    Older Posts »